TJHIA


Diluar sana, matahari telah menarik sinarnya dari bumi. Sementara sang bulan, dengan bentuk bulat sempurna kini bermain riang ditemani paran bintang. Ada satu celah dunia yang masih hidup dalam sirnanya kehidupan manusia malam ini. Pikiranku.

Lintasan-lintasan momen bersama “coffee beans” (seorang kakak, 3 orang adik) beberapa jam yang lalu, masih menarik sepertinya untuk otak ini. Seperti biasa, berkumpul dalam hitungan mutlak tapi dengan kegiatan masing-masing. Bedanya kali ini, ada cemilan langka.

Biji, kalian pasti kenal betul dengan makhluk ini. Hanya beberapa butir biji bunga matahari, yang telah dikeringkan, diproses sedemikian sederhananya hingga ia diberi nama lain oleh manusia. Kuaci. Objek kecil itu menjadi pemainan baru yang membuatku terus terjaga, memaksakan mata untuk terpejam pun menjadi hal yang sia-sia.

Beberapa biji-bijian tergeletak acak dimeja kayu. Pembungkus tubuh biji ini pun dikumpulkan disatu sudut meja, menjadi sampah. Tidak jauh darinya, dua bungkusan berukuran  lima belas senti dengan design sederhana tergeletak pasrah. Didominasi warna coklat muda, merah dan keterangan produk ditulis dengan tinta hitam. Ditambah sedikit warna hijau pada lisensi halalnya.

Dalam hitungan detik, empat tangan coffee beans-ku bergantian menyambangi serakan biji-biji ini. Mengambilnya dari meja, memisahkan kulitnya, mengambil biji kecilnya, terakhir menikmati sensasi terpendam dari tubuh mungilnya. Satu persatu biji kecil ini dinikmati. Pertanyaanku, apa yang mereka harapkan dengan memasukkan tubuh kecil biji ini kedalam mulutnya, mengunyah dalam frekuensi rendah, menelan biji bunga matahari yang telah hancur, tak berbentuk ini. Padahal kita semua tahu, rasanya hanya bertahan beberapa menit dan itupun hanya ada rasa gurih yang tanggung dengan sedikit rasa asin yang samar.

 Sejenis makanan ringan, yang benar-benar ringan ini mengusik laci imajinasi. Semakin jelas gambaran asal hingga ajalnya, semakin sulit menghentikan otak memproduksi berbagai bentuk pertanyaan. Tekstur tubuhnya hanya 1 cm. Belum lagi ketika ingin menikmati rasanya, kulit luar harus dibuang, hingga biji kecil dengan ukuran mili menjadi akhir dari petualangan untuk mencicipi citarasanya. Sederhana, sangat sederhana rasa yang ia miliki. Yang ia hasilkan setelah berada dalam kubangan dengan derajat air mendidih. Belum cukup biji-biji ini masih harus merelakan tubuhnya dilempar dalam panasnya wajan. Hingga manusia merasa sudah, dengan penyiksaannya.

Oke, bukan itu inti tulisan ini muncul. Satu penjelasan dari salah satu manusia favoritku meredam semua imajinasi untuk sementara. Mengapa manusia tetap menjadikan biji bunga matahari ini sebagai makanannya, mengapa dengan kesederhanaan rasanya masih saja digemari, dan masih saja tak ada keluhan saat biji-biji ini menuntut kesabaran manusia untuk mengeksekusi biji perbijinya.

 Alam bawah sadar manusia, hal yang abstrak bahkan tak ada ahli yang memastikan cara kerjanya. Ia menyimpan semua stimulus dari luar tubuh manusia. Lebih kuat kapasitas penyimpanannya, dibandingkan dengan memori otak yang memiliki limit dan kemungkinan banyak hal yang tak direkam baik olehnya. Dan satu yang pasti dalam dunia alam bawah sadar adalah memastikan apapun yang belum membuka pintu kepastian. Ini yang disebut rasa penasaran, ingin tau dengan wujud pertanyaan agar ia lebih nyata, lebih rasional bagi manusia.

Dan kesederhanaan rasa milik kuaci, Tjhian sang biji bunga matahari memfungsikan alam bawah sadar. Mengatur otak, memberi komando samar pada organ. Bahwa, biji ini masih menjadi hal yang ambigu baginya. Ia mengambil semua kesempatan untuk memperjelas rasa apa yang menjadi kesimpulan dari sang biji. Hanya alasan ini yang menghentikan tanya, mengapa masih saja kuaci menjadi menarik dalam fungsi lainnya. Walaupun, bagi alam sadarku masih belum menemukan hal logis tentang rasa nikmat yang ia titipkan sebagai jejak diindraku.

Begitu mungkin, mengapa ada rasa.  Sesuatu yang samar-samar itu perlu dijelaskan. Jika samar ia tak dikenal. Anonim. Tanda tanya wujudnya.    
                                                                                                                                  

Komentar

  1. The best part is you can make an awesome story from a tiny stuff. This is written so well. Keep going. Jeonjin jeonjin (•ө•)♡

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer