Absis, harusnya nyata!
Segelas kopi tubruk yang telah
larut oleh air menjadi teman sore ini. Tidak ada pemandangan yang melankolis.
Hanya ada tumpukan rumah yang tidak rapi, tidak menarik sama sekali. Untuk menghadirkan suasana sendu, tatapanku
kualihkan melirik seberkas gambaran danau disela-sela badan bangunan. Pandangan
lurus mengarah ke timur. Fatamorgana terlihat samar namun meneduhkan.
Kutarik seorang teman nyata
lainnya, noyan. Teman untuk mendengarkan. Sosoknya hadir dengan tampang acuh
dan gerakan badan seolah tidak peduli. Entahlah tentang peduli atau tidaknya,
hanya aku selalu tertantang untuk memaksanya mendengarkan. Seperti biasa ocehan
tanpa arah mengalun dari mulutku, lagi entah ia membuka telinga atau tidak.
Tatapanku membeku pada kemilau
air laut yang bersenda dengan pendar matahari sore. Otot mulutku tidak mampu membentuk
satu katapun. Sedang temanku tetap dengan dirinya. Satu memori terbuka.
Membuatku melayang dalam ingatan lama ini.
“Tuhan lebih tau apa yang sanggup
kita hadapi” sosoknya samar namun suaranya terang menguji telingaku. Dalam
pikiranku yang resah mencari siapa dia, suaranya terus menggema. Tidak
memberikan kesempatan pada memori membuka lebaran lain, menjelaskan sosoknya.
“bayangkan jika tuhan memenuhi
keliaran pikiranmu, detik ini kita mungkin tidak duduk senyaman ini” ia
tersenyum, penuh syarat. Tidak ada ingatan akan suaraku disana, hanya suaranya.
“setiap hari kita harus dihadapkan dengan ragam warna, bau, bentuk dari udara
hasil fotosintesis. Bukankah itu lebih menyiksa bukannya jadi pesona alam?”.
Yang muncul kemudian, aku dengan bayangan yang terpaku melihat, membayangkan
apa yang ia katakan.
Apakah banyangan akan bentuk O2,
warna dan bau-bauan beterbangan dialam secara liar dan beragam ini sama dengan
bayangan saat itu. Kurasa tidak. Yang kusadari, aku tidak ingin berlama-lama
menghadapinya. Diriku tertarik kembali kedunia nyata. Mencair dari kebekuan
satu objek kosong. Tarikan nafas dalam tanpa perintah, menenggelamkan kembali
memori lama itu.
Noyan tetap sama, sibuk dengan
dunianya. Kutatap lagi tingkah air danau laut tawar yang berbalut sinar
kemerahan. Kubiarkan ia tidak tahu, bahwa aku beberapa detik lalu telah hidup
di memori lama. Ada satu makna lagi yang
tuhan kirim, walau hanya beberapa saat bersama diri sendiri. Tuhan lebih tau
apa yang ia perbuat.
Kutarik gelas kopi lebih
mendekat. Seduan kopi mulai kehilangan panas. Uap berbau ramuan kayu bercampur
sedikit aroma tanah kini mulai menipis, mulai tak tetangkap indraku. Kuharuskan
diri meneguknya hingga tandas bersama ingin memperjelas memori tentang
siapa lagi ini.
...


Komentar
Posting Komentar